Selasa, 15 November 2022

3.3.a.8. Koneksi Antarmateri - Modul 3.3 - Pengelolaan Program yang berdampak Positif pada Murid

  




1.       Bagaimana perasaan Anda setelah mempelajari modul ini?

 

PENGALAMAN

PERASAAN

CAPAIAN

KETERKAITAN DENGAN KOMPETENSI DIRI

Melalui modul 3.3 ini, saya banyak belajar mengenai penting seorang guru mengajak murid untuk terlibat dalam program-program sekolah baik intrakurikuler, kokurikuler, maupun ektrakurikuler. Seorang murid ternyata bisa menjadi pemimpin pembelajaran bagi dirinya sendiri dan guru hanya mendampingi dan mengawasi

Saya merasa bahagia, karena saya belajar banyak hal yang menarik, dimana hal-hal ini yang membuat pikiran saya terbuka, untuk terus memberikan yang terbaik untuk murid. Saya merasa tertantang untuk menyusun program berdasarkan aset yang ada, kemudian mengelolanya dengan prinsip “ Dari Murid Untuk Murid”

Selama mempelajari modul ini, saya menyadari sebagai seorang pemimpin pembelajaran, ketika ingin menyusun program sekolah, harus melalui tahapan mulai perencanaan, pelaksanaan, mentoring hingga evaluasi. Pentingnya seorang guru memperbaiki proses penyusunan program selama ini sehingga lebih mengedepankan suara, pilihan, dan kepemilikan murid

Nilai dan Peran Guru Penggerak sangat dibutuhkan dalam mengelola sebuah program yang berdampak pada murid. Adanya keinginan diri untuk berinovasi dan melakukan yang terbaik untuk murid mendorong saya untuk terus belajar mengajak murid agar menjadi pemimpin pembelajaran sehinggan terciptanya well being bagi dirinya.

 

 

2.       Apa intisari yang Anda dapatkan dari modul ini?

 

“ Apa itu kepemimpinan murid (student agency) dan bagaimana keterkaitannya dengan Profil Pelajar Pancasila ? “

 

Student Agency atau Kepemimpinan murid  adalah ketika murid  mampu mengarahkan pembelajaran mereka sendiri, membuat  pilihan-pilihan, menyuarakan opini, mengajukan pertanyaan, dan mengungkapan rasa ingin tahu, berpartisipasi dan berkontribusi pada komunitas belajar, mengkomunikasikan pemahaman mereka kepada orang lain, dan melakukan tindakan nyata sebagai hasil proses belajarnya.

 

Saat murid menjadi pemimpin dan mengambil peran aktif dalam proses pembelajaran mereka sendiri,maka hubungan yang tercipta antara guru dengan murid akan mengalami perubahan, karena hubungannya menjadi bersifat kemitraan.

 

Upaya untuk menumbuhkembangkan kepemimpinan murid akan menyediakan kesempatan bagi murid untuk mengembangkan profil positif dirinya, yang kemudian diharapkan dapat mewujud sebagai pengejawantahan profil pelajar pancasila dalam dirinya.

 

Saat murid menjadi pemimpin dalam proses pembelajaran mereka sendiri (atau kita katakan: saat murid memiliki agency), maka mereka sebenarnya memiliki suara (voice), pilihan (choice), dan kepemilikan (ownership) dalam proses pembelajaran mereka. Lewat suara, pilihan, dan kepemilikan inilah murid kemudian mengembangkan kapasitas dirinya menjadi seorang pemilik bagi proses belajarnya sendiri.  Tugas kita sebagai guru sebenarnya hanya menyediakan lingkungan yang menumbuhkan budaya di mana murid memiliki suara, pilihan, dan kepemilikan mereka.

1.       Voice (suara) adalah pandangan, perhatian, gagasan yang diekspresikan oleh murid melalui partisipasi aktif mereka di kelas, sekolah, komunitas, dan sistem pendidikan mereka, yang berkontribusi pada proses pengambilan keputusan dan secara kolektif mempengaruhi hasilnya

2.       Pilihan (choice) adalah peluang yang diberikan kepada murid untuk memilih kesempatan-kesempatan dalam ranah sosial, lingkungan, dan pembelajaran.

3.       kepemilikan dalam belajar (ownership in learning) sebenarnya mengacu pada rasa keterhubungan, keterlibatan aktif, dan investasi pribadi seseorang dalam proses belajar.

 

“ Bagaimana lingkungan yanng mendukung tumbuhkembangnya kepemimpinan murid ? “

Lingkungan yang menumbuhkembangkan kepemimpinan murid adalah lingkungan di mana guru, sekolah, orangtua, dan komunitas secara sadar mengembangkan wellbeing atau kesejahteraan diri murid-muridnya secara optimal.

 

lingkungan yang menumbuhkembangkan kepemimpinan murid akan memiliki beberapa karakteristik, di antaranya adalah :

1.    Lingkungan yang menyediakan kesempatan untuk murid menggunakan pola pikir positif dan merasakan emosi yang positif

2.     Lingkungan yang mengembangkan keterampilan berinteraksi sosial secara positif,arif dan bijaksana

3.    Lingkungan yang melatih keterampilan yang dibutuhkan murid dalam proses pencapaian tujuan akademik maupun non-akademiknya.

4.   Lingkungan yang melatih murid untuk menerima dan memahami kekuatan diri, sesama, serta masyarakat dan lingkungan di sekitarnya

5.   Lingkungan yang membuka wawasan murid agar dapat menentukan dan menindaklanjuti tujuan, harapan atau mimpi yang manfaat dan kebaikannya melampaui pemenuhan kepentingan individu, kelompok, maupun golongan

6.  Lingkungan yang menempatkan murid sedemikian rupa sehingga terlibat aktif dalam proses belajarnya sendiri

7.    Lingkungan yang menumbuhkan daya lenting dan sikap tangguh murid untuk terus bangkit di tengah kesempitan dan kesulitan

  

“Bagaimana melibatkan komunitas untuk mendukung tumbuhnya kepemimpinan murid ?”

 

Sebagai pusat dari proses pendidikan, murid berada dalam lintas komunitas. Mereka dapat berada sekaligus pada komunitas keluarga, kelas, antar kelas, sekolah, sekitar sekolah dan komunitas yang lebih luas lainnya. Semua komunitas tersebut secara langsung maupun tidak langsung mempengerahui proses pembelajaran murid. Komunitas-komunitas tersebut aset sosial yang dapat di manfaatkan untuk meningkatkan kualitas progam/pembelajaran di sekolah.

Komunitas memiliki peran penting dalam membantu mewujudkan lingkungan belajar yang mendukung tumbuhnya kepemimpinan murid karena menyediakan kesempatan bagi murid untuk mewujudkan pilihan dan suara mereka.

Komunitas-komunitas yang mendukung kepemimpinan murid akan memahami bahwa sesungguhnya murid-murid memiliki suara,pilihan, dan kepemilikan.

 

 

3.       Apa  keterkaitan yang dapat Anda lihat antara Modul ini dengan modul-modul sebelumnya?

Ø  Keterkaitan Modul 1.1 dengan 3.3

Ki Hajar Dewantara menyampaikan, peran seorang guru adalah menuntun segala kodrat yang ada pada murid, sehingga mereka bisa selamat dan bahagia sebagai individu masyarakat. Seorang pendidik, dalam mengelola program yang berdampak pada murid haruslah menitikberatkan pada keterlibatan murid dan berorientasi pada pengembangan potensi (kodrat anak), mengembangkan ketrampilan atau kepemimpinan dalam diri murid

sehingga bermanfaat untuk mereka baik sebagai individu maupun dalam kehidupan masyarakat. Dalam modul 3.3. penghambaan murid lebih ditekankan Pada bagimana melihat murid sebagai pribadi yang utuh. dan menuntun murid sesuai kodratnya dengan mengelola program-program yang berdampak pada murid.

Ø  Keterkaitan Modul 1.2 dengan 3.3

Melalui nilai Mandiri, Reflektif, Kolaboratif. Inovatif, dan Berpihak pada Murid, diharapkan guru bisa menyusun dan mengelola program yang berdampak pada murid. Nilai-nilai tersebut harus dipedomani guru agar kegiatan yang direncanakan dapat dilaksanakan dengan baik dan dapat mengembangkan kepemimpinan murid, Selain itu, Guru Penggerak tidak hanya berperan sebagai pemimpin dalam pembelajaran di kelas, namun memiliki tanggung jawab sebagai pemimpin dalam hal pengelolaan program yang berdampak pada murid di sekolah.

Ø  Keterkaitan Modul 1.3 dengan 3.3

Visi Guru Penggerak sangat berkaitan dengan bagaimana menciptakan lingkungan belajar yang berpihak pada murid & menjalankan rencana program sekolah dengan dukungan para pemangku kepentingan dalam mendukung ekosistem pembelajaran yang berpihak pada murid. Perencanaan yang dilakukan dapat menggunakan pendekatan Inguiry Apresiatif (IA)

melalui model SD cycle, atau diistilahkan BAGJA dalam bahasa Indonesia. BAGJA merupakan sebuah kerangka yang dikembangkan untuk mengkoordinir praktik baik yang akan kita inisiasi dengan memetakan aset terlebih dahulu, salah satunya menyusun program yang melibatkan kepemimpinan murid.

Ø  Keterkaitan Modul 1.4 dengan 3.3

Pengelolaan program yang berdampak pada murid diharapkan dapat memberikan dampak positif dengan terwujudnya budaya positif di lingkungan sekolah. Budaya positif berupa lingkungan yang mendukung perkembangan siswa terutama kekuatan kodrat pada anak-anak. Dalam lingkungan belajar budaya positif, murid dibiasakan untuk dapat melakukan komunikasi dua arah bersama guru, serta menanamkan nilai-nilai pendidikan karakter untuk mendukung terlaksananya program sekolah yang berdampak pada murid.

Ø  Keterkaitan Modul 2.1 dengan 3.3

Merencanakan dan mengelola program yang berdampak pada murid terlepas dari apa yang menjadi kebutuhan murid seperti kesiapan belajar murid, minat belajar dan profil belajar murid. Seorang guru penggerak dibekali dengan pembelajaran yang berpihak pada murid karena kebutuhan mereka beragam. Kebutuhan belajar mereka menjadi dasar guru dalam

mengelola program yang berdampak pada murid. Keragaman murid ini merupakan aset atau modal untuk melakukan diferensiasi program yang berdampak pada murid dan sesuai dengan kebutuhan murid.

Ø  Keterkaitan Modul 2.2 dengan 3.3

Perencanaan program yang berdampak pada murid, perlulah guru mengintegrasikan pembelajaran sosial emosional di dalamnya. Hal ini bertujuan untuk mengembalikan kesadaran penuh (mindfullness) murid. Agar dapat melaksanakan progrma sekolah, murid dapat merasa tenang, fokus, berempati, termotivasi, dan memiliki sikap tanggung jawab atas pilihannya. Teknik mindfullness menjadi strategi pengembangan lima kompetensi sosial emosional yang berdasarkan pada keberpihakan pada murid yang berdampak Pada anak.

Ø  Keterkaitan Modul 2.3 dengan 3.3

Coaching sangat penting dilakukan sebagai langkah untuk menggali segala potensi dan melejitkan kinerja murid untuk menemukan sendiri solusi atas permasalahan yang dihadapi ketika melaksanakan program sekolah yang berdampak pada murid, Untuk itu, sikap kreatif, inovatif, dan sikap kritis dari murid sangat diharapkan agar tercipta murid merdeka belajar.

Coaching memberikan kesempatan pada anak-anak berkembang dan menggali proses berpikir pada pribadi. Maka dalam pengelolaan program yang berdampak pada murid, coaching dapat digunakan sebagai strategi dalam mengembangkan sumber daya murid.

Ø  Keterkaitan Modul 3.1 dengan 3.3

Pemimpin pembelajaran adalah orang yang mau melakukan perubahan ke arah yang positif dan senang berkolaborasi. Agar keputusan yang diambil bersifat efektif dan efisien terkait rancangan program yang ingin dilakukan, tentunya keputusan tersebut haruslah memperhatikan 3 prinsip berpikir, 4 paradigma pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengujian dan pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran, Hal ini untuk mendorong rasa percaya diri, keselamatan dan kebahagiaan murid, serta seluruh pihak yang terkait dalam pengelolaan program yang berdampak pada murid.

Ø  Keterkaitan Modul 3.2 dengan 3.3

Pengelolaan program yang berdampak pada murid hendaknya didukung oleh identifikasi aset/modal yang dimiliki oleh sekolah (modal manusia, sosial, fisik,lngkungan/alam, finansial, poli agama dan budaya), sehingga pemanfaatan dan pengefektifan sumber daya menjadi prioritas yang perlu diperhatikan oleh seluruh stakeholder yang ada.Dengan berfokus pada kekuatan apa yang kita miliki, maka perencanaan dan pengelolaan program yang berdampak pada murid dapat terencana dengan baik.

 

4.       Setelah melihat keterkaitan antara modul ini dengan modul-modul lainnya jelaskanlah perspektif Anda tentang program yang berdampak positif pada murid ?

Program yang berdampak positif pada murid merupakan - program - sekolah yang – dibuat berdasarkan hasil analisis kebutuhan murid. Sasarannya adalah murid dan untuk mengembangkan potensi murid seutuhnya. Program yang dibuat berdasarkan minat dan harapan dari murid dan untuk memfasilitasi perkembangan potensi yang ada dalam diri murid.

Bagaimana seharusnya program-program  atau kegiatan sekolah harus direncanakan, dilaksanakan, dan dievaluasi agar program-program tersebut dapat berdampak positif pada murid?

Penyusunan program sekolah, tidak terlepas dari pemetaan aset manusianya, terutama pada potensi murid. Untuk mempermudah dalam melakukan pemetaan, dilakukanlah suatu pendekatan yang berbasis pada aset. Selain pemetaan kompetensi/kekuatan/aset yang ada  di sekolah, dalam pengembangan program ini, diperlukan juga pemetaan kebutuhan murid & semua warga sekolah. Untuk dapat melakukan pemetaan kebutuhan dengan baik, terstruktur, dan terarah, maka diperlukan pendekatan yang dapat menghimpun semua harapan warga sekolah, terutama murid, yakni menggunakan pendekatan IA model BAGJA. Selain pemanfaatan kebutuhan ataupun kekuatan yang ada di sekolah, pengelolaan program yang berdampak pada murid juga harus .memperhatikan visi yang merupakan buah kreativitas murid.

 #CGP#GuruPenggerak#MerdekaBelajar#MerdekaMengajar


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkolaborasi sebagai Host pada Webinar Sahabat Teknologi Kaltara

  Halo Sahabat Teknologi, Late post yaa....masih edisi kegiatan berbagi dan berkolaborasi PembaTIK Level 4 Provinsi Kalimantan Utara. Kegiat...